Sabtu, 11 Mei 2013

PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN BEHAVIORAL


PEMBELAJARAN  DENGAN PENDEKATAN BEHAVIORAL
Pendekatan behavioral menekankan arti penting dari bagaimana anak membuat hubungan antara pengalaman dan perilaku, pendekatan behavioris pertama yang akan kita bahas adalah penhkodisan klasik.
Pendekatan Klasik
pada awal 1900-an, psikolog Rusia Ivan Pavlov tertarik pada cara tubuh mencerna makanan. Dalam eksperimennya, dia secara rutin meletakkan bubur daging di depan mulut anjing, yang menyebabkan anjing mengeluarkan air liur. Anjing itu berliur ketika sedang merespons sejumlah stimuli yang diasosiasikan dengan
makanan, dan suara pintu tertutup saat makanan tiba. Palvov menyadari bahwa asosiasi terhadap penglihatan dan suara dengan makanan ini merupakan tipe pembelajaran yang penting, yang kemudian dikenal sebagai pengkodisian klasik (classical conditioning).
Pengkondisian klasik adalah tipe pembelajaran di mana suatu organism belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimuli. Dalam stimulus netral (setiap melihat seseorang) diasosiasikan dengan stimulus yang bermakna (sepertu makanan) dan menimbulkan kapasitas untuk mengeluarkan respons yang sama. Untuk memahami teori pengkondisian klasik  Pavlov (1927) kita harus memahami dua tipe stimuli dan dua tipe respons unconditioned stimulus (US), Uncoditionated response (UR), conditioned stimulus (CS), dan conditioned responses (CR).
Gambar 7.2. meringkaskan cara kerja pengkondisian klasik. Unconditioned stimulus (US) adalah sebuah stimulus yang secara otomatis menghasilkan respons tanpa ada pembelajaran terlebih dahulu. Dalam eksperimen Palvov, makanan adalah US. Unconditioned response (UR) adalah respons yang tidak dipelajari yang secara otomatis dihasilkan oleh US. Dalam eksperimen Palvov, air liur anjing yang merespons makanan adalah UR. Sebuah  conditioned stimulus (CS) adalah stimulus yang sebelumnya netral yang akhirnya menghasilkan conditioned response setelah diasosiasikan dengan US. Di antara stimuli yang terkondisikan dalam eksperimen Pavlop adalah beberapa penglihatan dan suara yang terjadi sebelum anjing menyantap makana, seperti suara pintu tertutup sebelum makanan ditempatkan di piring anjing, Conditioned response (CR) adalah respons yang dipelajari, yakni respons terhadap stimulus yang terkondisikan yangmuncul setelah terjadi pasangan US-CS.
Pengkondisian klasik dapat berupa pengalaman negative dan positif dalam diri anak di kelas. Di antara hal-hal di sekolah anak yang menghasilkan kesenangan karena telah dikondisikan secara klasik adalah lagu favorit, perasaan bahwa kelas adalah tempat yang aman dan menyenangkan, dan kehangatan dan perhatian guru. Misalnya, lagu bisa jadi merupakan hal netral bagi murid sebelum murid bergabung denganmurid lain untuk menyanyikannnya diiringi oleh perasaan yang positif.
Anak-anak akan  merasa takut di kelas jika mereka mengasosiasikan kelas dengan teguran, atau kritik menjadi CS untuk rasa takut. Pengkondisian klasik juga dapat terjadidalam kecemasan menghadapi ujian. Misalnya, anak gagal dalam ujian dan ditegur, dan ini menghasilkan kegelisahan; setelah itu, anak mengasosiasikan ujian dengan kecemasan, sehingga menjadi CS untuk kecemasan .
Mengevaluasi Pengkondisian Klasik. Pengkondisian klasik membantu kita memahami beberapa aspek pembelajaran dengan lebih baik. Cara ini membantu menjelaskan bagaimana stimuli  netral menjadi diasosiasikan dengan respons yang tak dipelajari  dan sukarela (LOlordo, 2000). Ini sangat membantu untuk memahami kecemasan dan ketakutan murid. Namun, cara ini tidak efektif untuk menjelaskan perilaku sukarela, seperti mengapa murid belajar keras untuk satu mata pelajaran atau lebih menyukai sejarah ketimbang geografi. Untuk area ini, pengkondisian operasi akan lebih relevan.

Pengkondisian Operan
Pembahasan kita terhadap pengkondisian operan disebut dengan definisi umum kemudian beralih ke pandangan dari Thonrdike dan Skinner.
Pengkondisian operan (juga dinamakan pengkondisian instrumental) adalah sebelum pembelajaran di mana konskuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi. Arsitek utama dari pengkondisian operan adalah B.F. Skinner, yang pandangannya didasarkan pada pandangan E.L. Thorndike.
Hukum Efek Thorndike. Pada saat yang hampir sama dilakukannya sebuah eksperimen pengkondisan klasik anjing oleh Ivan Pavlov, E. L. Thorndike (1906) Sedang mempelajari kucing dalam kotak. Thorndike menempatkan kucing yang lapar dalam sebuah kotak dan meletakkan ikan di luar kotak. Untuk bisa keluar dari kota, kucing itu harus mengetahui cara membuka palang di dalam kotak tersebut. Pertama-tama kucing itu melakukan beberapa respons yang tidak efektif. Dia mencakar atau menggigit palang. Akhirnya, kucing itu secara tidak sengaja menginjak pijakan yang membuka palang pintu. Saat kucing dikembalikan ke kotak, dia melakukan aktivitas acak seperti acak sampai dia menginjak pijakan itu sekali lagi. Pada percobaan berikutnya, kucing itu semakin sedikit melakukan gerakan acak, sampai dia akhirnya bisa langsung menginjak pijakan itu untuk membuka pintu. Hukum Efek (Law Effect) Thorndike menyatakan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil positif akan diperkuat dan bahwa perilaku yang diikuti hasil negative akan diperlemah.
Pertanyaan utama untuk Thorndike adalah bagaimana respons stimulus yang benar (S-R) ini menguat dan akhirnya mengalahkan respons stimulus yang tidak benar. Menurut Thorndike, asosiasi SR yang tepat akandiperkuat, dan asosiasi yang tidak tepat akan melemah, karena konsekuensi dari tindakan organism. Pandangan Thorndike disebut teori S-R karena perilaku organism itu dilakukan sebagai akibat dari hubungan antara stimulus dan respons. Seperti yang akan kita lihat selanjutnya, pendekatan Skinner memperluaskan ide dasar Thorndike ini.
Pengkondisian Operan Skinner. Pengkondisian operan, di mana konsekuensi perilaku akan menyebabkan perubhan dalam probabilitas perilaku itu akan terjadi, merupakan inti dari behaviorisme Skinner (1938). Konsekuensi imbalan atas hukuman bersifat sementara (kontingen) pada perilaku organism. Imbalan dan hukuman ini nanti akan kita jelaskan lebih lanjut.
Penguatan dan hukuman. Penguatan (Imbalan) (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas  terjadinya suatu perilaku. Misalnya, Anda mungkin berkata kepada murid Anda, “Selamat. Saya merasa senang setelah membaca cerita yang kalian tulis.” Jika murid bekerja lebih keras dan menulis lebih baik lagi untuk memberi cerita selanjutnya, komentar positif Anda akan merupakan penguat atau memberi imbalan pada perilaku menulis murid. Jika anda merengut pada murid yang bicara di kelas dan kemudian perilaku bicara itu menurun, maka Anda yang merengut itu merupakan hukuman bagi tindakan si murid.
Penguatan boleh jadi kompleks. Penguatan berarti memperkuat. Dalam penguatan positif, frekuensi respons meningkat karena diikuti  dengan stimulus yang mendukung (rewarding), seperti dalam contoh dimana komentar positif guru meningkatkan perilaku menulis murid. Demikian pula, memuji orang tua yang mau hadir dalam rapat orang tua guru mungkin akan mendorong mereka untuk kelak ikut rapat lagi.
Dalam penguatan negative, frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan) (Frieman, 2002). Misalnya, ayah mengomeli putranya agar mau mengerjakan PR. Dia terus mengomel. Akhirnya, anak itu lelah mendengarkan omelan dan mengerjakan PR menghilangkan stimulus yang tidak menyenangkan (omelan). Perhatikan perilaku Anda setelah stress karena mengajar seharian. Anda sakit kepala, minum aspirin, dan sakit kepala lenyap. Minum aspirin adalah  akan diperkuat jika tindakan ini mengurangi rasa sakit kepala.
Satu cara untuk mengingat perbedaan antara penguatan positif dan negative adalah dalam penguatan positif ada sesuatu yang ditambahkan atau diperoleh. Dalam penguatan negative, ada sesuatu yang dikurangi atau dihilangkan. Adalah mudah  untuk mengacaukan penguatan negative dengan hukuman (punishment). Agar istilah ini tidak rancu, ingat bahwa penguatan negative meningkatkan probabilitas terjadinya sautu perilaku, sedangkan hukuman menurunkan probabilitas terjadinya perilaku. Gambar 7.4. meringkaskan dan menyajikan contoh dari konsep penguatan positif, penguatan negative, dan hukuman.


PENGUATAN POSITIF
Perilaku

Murid mengajukan pertanyaan yang bagus
Konsekuensi

Guru menguji murid
Perilaku ke Depan

Murid mengajukan lebih banyak pertanyaan

PENGUATAN NEGATIF
Perilaku

Murid menyerahkan PR tepat waktu
Konsekuensi

Guru berhenti menegur
Perilaku ke Depan

Murid makin sering menyerahkan PR tepat waktu
HUKUMAN
Perilaku

Murid menyela guru
Konsekuensi

Guru menegur murid langsung
Perilaku ke Depan

Murid berhenti menyela guruyaan
             
Ingat bahwa penguatan bisa berbentuk positif dan negatif. Dalam keda bentuk itu, konsekuensinya meningkatkan perilaku dalam hukuman perilakunya berkurang.






Review
·         Apa pengkondisian klasik itu? Buat contoh sendiri untuk mengilustrasikan  hubungan antara US, UR, CS, dan CR. Dalam konteks pengkondisian klasik, apa arti dari generalisasi, diskriminasi, pelenyapan, dan desentisisasi?
·         Bagaimana pengkondisian operan berhubungan dengan hukum Efek Thorndike? Jelaskan tipe penguatan dan hukuman yang berbeda-beda. Dalam konteks pengkondisian operan, apa arti dari generalisasi, diskriminasi, dan pelenyapan?
Reflect
·         Apakah emosi Anda adalah akbiat dari pengkondisian klasik atau pengkondisian operan? Atau dari keduanya? Jelaskan alasan Anda !

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar